mengubah hikayat menjadi cerpen

hallo kawan-kawan kali ini saya mau berbagai hikayat menjadi cerpen nih Cerpen atau cerita pendek adalah bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel.


Bersyukurlah

Sebenarnya Pardi dan istrinya  tidak menyangka akan terjadi seperti ini,  hidupnya menjadi sulit bagai sebuah langit yang ingin menyentuh bumi. Mereka terus menerus mengais makan, berkeliling dari satu kotak sampah ke kotak sampah lain tanpa menghiraukan hiruk pikuknya keadaan kota. Jika dipikir, kota itu merupakan salah satu kota metropolitan yang dipimpin oleh seorang konglomerat bernama Putra Hnggawan.  Sejak dipilih menjadi walikota di kota terasebut,  ia akrab  dipanggil Awan. Toko yang Awan miliki sudah hampir tersebar di seluruh kota, termasuk toko buah, bangunan, dan emas. Baginya kekayaan yang ia miliki sudah melebihi apa yang ia harapkan. Yang terpenting sekarang bagaimana ia bisa mendapat pujian dan kekuasaan.

Matahari yang bersinar seakan tidak suka melihat ramainya kota, tidak menghentikan langkah pardi dan istrinya untuk terus mencari sesuap nasi. Kebetulan siang itu Pak Awan beserta jajaran pemkotnya sedang mengisi perut mereka yang buncit dengan makanan  mahal yang mungkin tidak akan pernah lagi Pardi dan istrinya memakannya. Melihat para pejabat  sedang makan siang, berjalanlah Pardi dan istrinya menuju rumah makan yang itu. tanpa basa- basi, dengan pakaian yang compang camping Pardi dan istrinya  dengan spontan masuk ke dalam rumah makan. Melihat ada pengemis mendekati Awan dan situasi di sekitar hanya ada anak buahnya, Awan dengan tanpa pikir panjang menyuruh ajudannya untuk mengusir pengemis yang lusuh itu. Siang pun berganti malam, walikota dan jajarannya pulang ke rumah dengan merasa hebat yang pada kenyataannya hari ini mereka tidak melakukan kegiatan yang berarti.

Ketika malam telah tiba, Pardi dan istrinya dengan menahan rasa lapar  menuju toko kosong pinggir kota untuk melemaskan ototnya setelah  seharian berjalan sembari memikirkan nasibnya yang mereka anggap tidak adil. Pardi dan istrinya sering merasa tidak enak apabila orang orang kota yang sibuk dengan kehidupannya lewat dihadapannya. Tidak jarang  orang-orang itu mengusirnya dan berkata dengan perkataan yang tidak enak didengar seakan mereka adalah orang yang paling benar. Haripun terus berganti, Pardi dan istrinya melakukan kegiatan mereka seperti biasa yaitu mengais kotak sampah. Beda dengan hari biasa, dihari itu kotak sampah terlihat penuh dengan makanan sisa dari orang orang yang tak bersyukur. Nasi yang sudah tercampur dengan sayur serta lalat di atasnya  tidak menghalangi pardi dan istrinya untuk memakannya. Bagi mereka makanan itu sudah cukup untuk mengganjal perutnya yang dari kemarin tidak terisi karena kotak sampah yang mereka temukan hanya berisi sampah.

Bagi Pardi dan istrinya, kotak sampah merupakan alat pemuas kebutuhan yang sangat penting untuk melanjutkan hidup yang sudah tak berarti. Meminta makanan dari satu toko ke toko lain sudah sering mereka lakukan. Namun, jangankan diberi makanan mendekatinya pun tak  boleh.

Malam hari merupakan waktu yang paling ditunggu oleh Pardi dan istrinya. Diwaktu malam mereka dapat melepaskan segala cercaan dan hinaan yang diberikan orang orang kepadanya. Dengan mengingat-ingat kejadian lalu, timbul pertanyaan pardi kepada istrinya “mungkin ini adalah takdir kita, hinaan dan cercaan ini memang membekas dihati. tapi istriku, apakah kau akan terus bersamaku dalam keadaan ini?  Tanya pardi sambil meneteskan air mata. Dengan suara yang lirih, istrinya pun menjawab pertanyaan pardi dengan nasihat-nasihat agar pardi harus tetap kuat dalam menjalani kehidupan ini, kemudian dengan tangan kosong Istri Pardi mengusap air mata pardi yang mulai membasahi pipi hingga ke dagunya.

Pardi pun sangat menyesali perbuatannya yang telah membawa kabur uang negara dan menyalahgunakan uang hasil korupsinya. Sehingga semua kekayaan beserta rumahnya habis disita KPK yang  hanya menyisakan uang satu juta rupiah di dompetnya. Sisa uang itu dicopet ketika mereka sedang mencari kontrakan. Ia berfikir bahwa ini adalah akibat dari mencuri uang negara dan akibat dari sifat sombongnya ketika ia masih dalam keadaan mampu.

Tak terasa sudah sepuluh bulan ia bersama istrinya hidup menggelandang, tiga bulan terakhir ini istri pardi sering merasa mual dan muntah-muntah. Perut Istri Pardi dari hari ke hari semakin membesar, setelah diteliti lebih lanjut oleh pardi dan istrinya, ternyata istri pardi hamil. Mual dan muntah istri pardi semakin menjadi, berkatalah istri pardi kepada suaminya “ mas, aku sepertinya ngidam buah kiwi. Rasa tidak enakku ini mungkin akan hilang setelah makan buah kiwi”. Ucap istri Pardi sambil  memegangi kepalanya yang pusing. “istriku, bagaimana aku akan mendapatkan buah yang mahal itu? Jangankan meminta mendekati toko buah pun sudah banyak yang menghina kita”, Ucap Pardi.

Mendengar ucapan Pardi, istrinya semakin menangis tersedu-sedu. Melihat istrinya yang menangis, pardi tak sampai hati. Kemudian dengan perasaan berat dan diselimuti rasa takut, pardi melangkahkan kakinya menuju pasar. Sesampainya di pasar ia segera menuju toko buah yang terletak di tengah pasar, dengan suara yang memelas dan baju yang compang camping pardi berkata kepada pedagang buah “mas, boleh tidak  saya mengambil buah kiwi yang sudah busuk ini, istri saya yang hamil sedang ingin makan buah kiwi”. Merasa kasihan dengan Pardi, pedagang itu memperbolehkan Pardi untuk membawa buah busuk tersebut dan memberikan  baju serta nasi sisa kepada Pardi. Pardi pun merasa heran, mengapa kali ini ia tidak dihina. Dengan perasaaan yang gembira, pardi kembali ke pinggir kota dan memberikan buah kiwi yang ia dapat kepada istrinya. Ketika akan memakannya, istri pardi melihat bahwa buah kiwi itu busuh, lalu dihempaskanlah buah kiwi itu dan semakin menjadi ia menangis seakan air matanya seperti air yang mengalir tiada henti. Istri pardi hanya ingin makan buah kiwi yang dijual di toko pak Awan.

 Dengan perasaan jengkel dan malu, serta tidak tahan dengan kelakuan istrinya, Pardi memberanikan diri untuk meminta buah di toko milik Pak Awan.  Kebetulan  Pak Awan ada di toko itu. Dengan kepala tertunduk dan melirihkan suara serta air mata sudah membasahi pipinya, pardi meminta buah kiwi langsung kepada pak Awan. Pak Awan yang merasa kasihan dengan Pardi memerintahkan anak buahnya untuk memberikan buah kiwi kepada Pardi. Pardi kemudian memberikan buah kiwi itu kepada istrinya. Sangking senangnya, istri pardi tak sadar tertawa-tawa sendiri lalu dimakannya. Tiga bulan telah berlalu, istri Pardi merasa penyakit yang ia alami tiga bulan lalu kambuh lagi. Ia ingin memakan buah naga yang dijual di toko pak Awan. Pardi lalu menuju ke toko Pak Awan dan meminta buah naga dan meminta maaf karena Pardi sering meminta kepada walikota tersebut. Pak Awan yang tak tega  dengan keadaaan Pardi kemudian memberikan buah tersebut kepada Pardi. Tanpa pikir panjang, Istri Pardi langsung memakan buah naga tersebut. Selama kehamilannya, kebutuhan istrinya banyak dibantu oleh orang-orang seperti baju, nasi dan segala perkakas.

Sembilan bulan telah berlalu, disaat malam hari yang terang akibat bulan purnama, istri Pardi melahirkan anak laki laki yang elok paras. Anak itu kemudian diberi nama Markaromah yang berarti anak di dalam kesukaran. Markaromah dirawat dan diurus dengan penuh kasih sayang. Pardi dan istrinya berjanji tidak akan berpisah dalam keadaan suka maupun duka.

Kehidupan pardi dan istrinya semakin hari semakin membaik. Di pagi hari yang cerah ketika pardi sedang menggendong anaknya, tiba-tiba ada seorang pria yang berperawakan tinggi menghampirinya. Pardi diajak oleh pria tersebut untuk mengikuti acara stasiun tv ternama dengan total hadiah dua milyar rupiah. Setelah dibujuk akhirnya pardi mau mengikuti acara tersebut. babak demi babak sudah dilalui pardi, saat difinal dengan jantung yang berdebar-debar pardi mulai memutar alat yang sudah bertuliskan nominal uang yang sudah disediakan dari stasiun tv. Jarum pada alat itu berputar dan menunjuk ke angka 2 milyar rupiah. Dengan spontan, pardi sujud tanpa menghiraukan gemuruh teriak penonton.

Akhirnya, Pardi dapat membawa pulang uang dua milyar. Uang itu ia gunakan untuk membeli rumah dan mendirikan usaha. Hidup mereka kini menjadi baik bahkan lebih baik daripada orang yang menghina dan mencerca mereka. Pardi dan Istrinya sangat bersyukur kepada Allah SWT. Mereka sekarang mengerti bagaimana hidup harus bersyukur baik dalam keadaan suka maupun duka.

source : http://dananaldiriksa.blogspot.com/2016/11/mengubah-teks-hikayat-si-miskin-ke.html

Leave a Comment

Your email address will not be published.